Perlukah Format Baru Training Ustadz-ustadzah?
Juli 24, 2008
FRAGMEN – Volume I / Edisi 5 – 25 Mei 2008
Oleh Redaksi LPM Newsletter
Barang kali pernah terfikirkan dari temen-teman ustadz-ustadzah ketika mengikuti training ini ketika yang ditampilkan didepan sebagai model seorang ustadz yang ideal, mampu bercerita, membuat permainan-permainan dan pembelajaran yang menarik, menyanyi dan sebagainya: Apakah saya mampu menjadi ustadz/ustadzah yang ideal?
Persoalannya adalah tidak semua menerapkan model pembelajaran seperti ini, tidak menyukainya, tidak bisa atau mempunyai pendekatan yang lebih baik. Semua kembali kepada masing-masing pribadi sebagai seorang ustadz/ustadzah.
Dalam prakteknya tidak semua ustadz/ustadzah pandai bercerita atau pandai membuat permainan-permainan yang seru. Ketika yang dituntut hal-hal yangdemikian maka ini secara tidak langsung menciptakan problem pribadi yang berdampak pada problem pribadi-pribadi yang saling menyalahkan, tertutup, mudah terluka, dan ketika terluka akan sulit disembuhkan.
Perlukah format baru training ini? Terlepas dari idealisme, kami berharap ada perubahan yang lebih baik, setiap saat. Apapun pendapat anda kami menghargainya.[]
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284 Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com
Kesadaran Berjama’ah
Mei 20, 2008
Apa yang diperlukan sekarang adalah kesadaran berjama’ah. Sadar bahwa kita berjama’ah artinya sadar bahwa kita bermasyarakat.
Sadar secara berjama’ah artinya kita sadar bareng-bareng, entah dalam arti apa. Tapi maksud tulisan ini adalah sadar bahwa dalam berjama’ah kita dipimpin, atau dengan kata lain ada kepemimpinan.
Dalam Kehidupan Bernegara, ada pemerintah, presiden, atau lembaga-lembaga birokrasi dibawah pemerintahan.
Dalam kehidupan beragama, dalam Agama Kristen ada kepausan, dalam Agama Islam Syi’ah ada Ayatullah. Di negeri Mesir, syaikh tertinggi biasanya syaikh dari Al Azhar.
Dari Islam kita kenal istilah “tiada Islam tanpa jama’ah, tiada jama’ah tanpa kepemimpinan, tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (la islama illa bi jama’ah, la jama’ata illa bi imarah, la imraata illa bi tha’ah).
Dengan demikian konsekuensinya adalah kepatuhan pada pemimpin. Salat jama’ah adalah contoh terbaik dalam hal ini dimana kepatuhan kepada pemimpin adalah sebuah keharusan.
Karena keharusan bagi pemimpin masyarakat untuk menunaikan tugas membawa kesejahteraan dan dari sinilah pimpinan itu ada wewenang membuat peraturan-peraturan yang kebijakan dan tindakan itu terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin.