Muhammad Rasulullah
Juli 24, 2008
FRAGMEN – Volume I / Edisi 5 – 25 Mei 2008
Oleh : M. Arif Kurniawan – Koord DP LPM Wahid Hasyim
Jatuhnya pilihan Michael H. Hart kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sebagian orang dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi Michael H. Hart berpegang pada keyakinannya, bahwa Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini empat belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Seberepa dekat hubungan anda dengan seorang Nabi pembawa agama Islam tergantung pada sejauh mana anda memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Dikutip dari berbagai sumber.
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284 Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com
Sejauh Mana Cinta Kita Terhadap Nabi Muhammad SAW
Juli 24, 2008
FRAGMEN – Volume I / Edisi 5 – 25 Mei 2008
Oleh Budi Ardianto – Koordinator Departeman Keagamaan Masyarakat LPM Wahid Hasyim
Sebagai muslim yang beriman pada nabi dan rasulNya, tentu kita akan menyakini bahwa Nabi Muhammad memang benar-benar utusan Allah, kekasih terdekatNya, orang suci sebagai uswatun hasanah bagi ummat yang merindukannya. Dialah nabi pembawa syafaat, pembawa rahmat suci saat manusia dibangkitkan di hari pembalasan kelak.
Sebagian orang Islam, seringkali memanjatkan salawat dan salam dalam setiap kesempatan, dalam setiap ingatan fikirnya, dalam setiap syukurnya pada Tuhan, untuk junjungan nabi Alloh SWT Muhammad SAW. Doa dan salam serta salawat dipanjatkan kepada Muhammad, tidak lain agar rahmat dan keselamatan Alloh SWT selalu tercurah untuk Muhammad SAW.
Selain dari itu, tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagai makhluk yang mendambakan kebahagiaan hidup hari ini dan seterusnya hingga akhir penciptaan, manusia dalam memanjatkan salam dan salawat kepada nabi Muhammad SAW, mereka mendambakan dan merindukan kasih sayang dan syafaat beliau sebagai penolong, sebagai rasa sejuk dikala panas siksa dari segala pembalasan amal dan dosa yang dilakukan manusia didunia menimpanya, mengharap syafaat beliau untuk menghapus dan menolong mereka dari dosa-dosa yang telah dilakukannya didunia dulu.
Namun apakah semua ummat manusia (umat Islam -red) akan menerima kado syafaat di hari pembalasannya kelak? Sejauh mana pengorbanan yang telah kita lakukan untuk Nabi SAW? dan sejauh mana rasa cinta kita pada beliau Muhammad SAW?
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284 Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com
FRAGMEN – Volume I / Edisi 5 – 25 Mei 2008
Oleh Budi Ardianto – Koordinator Departeman Keagamaan Masyarakat LPM Wahid Hasyim
Manusia dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan, baik perubahan internal meliputi perkembangan tingkat kematangan jiwanya (anak-anak, belia, dewasa, orang tua) dan semua hal yang ada didalamnya (perilaku, tutur kata, cara pandang, pola pikir dsb) maupun perubahan secara eksternal meliputi adanya sebuah eksistensi dari manusia lain dan lingkungan sekitar seperti penghargaan, pujian, celaan dsb, yang keduanya (internal dan eksternal) saling keterkaitan, karena memang sesungguhnya manusia adalah makhluk yang dinamis, mengalami perkembangan dan perubahan.
Selain makhluk yang dinamis manusia juga kita kenal sebagai makhluk sosial, makluk yang memiliki sifat ketergantungan baik dengan manusia yang lain maupun dengan makhluk Tuhan lainnya. Karena sifat ketergantungan inilah manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan dari orang lain. Untuk mencukupi kebutuhannya sebagai makhluk sosial, manusia hidup secara berkelompok membentuk satu kelompok hidup yang memiliki satu tujuan hidup yakni kebahagiaan hidup. Untuk mencapai tujuan bersama itu, mereka membuat semacam komitmen bersama dengan membuat sebuah aturan (norma) hidup secara mufakat dengan berbagai cara dalam pelaksanaannya.
Mereka hidup bersama, dengan berbagai aneka karakter, berbagai cara pandang dan berfikir yang berbeda, namun kecenderungan dalam satu masyarakat akan mempunyai satu corak warna kebudayaan/ kebiasaan yang sama, sehingga antara masyarakat daerah satu dengan yang lain akan berbeda corak kebudayaan dan peradabannya, sesuai dengan kebiasaan berfikir manusia daerah tersebut. Manusia sebagai makhluk dinamis, ia juga akan mengalami perkembangan pola pikir seiring dengan perubahan peradabannya. Jika mereka berfikir secara positif dalam melakukan perkembangannya, maka kebudayaan dan peradaban yang tercipta kelak akan berdampak positif juga. Seperti contohnya adalah berfikir bahwa ”membaca jendela dunia”, melalui membaca kita dapat menikmati dunia, dan hal itu bila dibiasakan dalam setiap keseharian kita maka akan tercipta sebuah budaya membaca, yang akhirnya tercipta sebuah peradaban yang maju karena manusia yang telah mampu menciptakan dunia masa depan pada waktu yang sangat cepat.
Dan hal itu diperlukan adanya sebuah kebiasaan berfikir secara positif (positive thinking) dimulai dari usia dini dan dilakukan secara berkesinambungan hingga tingkat usia dewasa bahkan usia lanjut sehingga nantinya akan menghasilkan hubungan horizontal terhadap peradaban manusia secara keseluruhan.
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284 Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com
EURO 2008 Swiss – Austria, Kecil tapi Besar…!
Juni 17, 2008
Oleh Muhammad Afif Fajri Yusron – Ketua LPM Wahid Hasyim
Selama sepekan ini mata dunia mungkin hanya tertuju di Austria dan Swiss. Bukan berlebihan memang, karena disana ada Pesta Sepakbola Piala Eropa 2008. Pagelaran tersebut telah menyedot perhatian dunia. Media elektronik mulai dari paling jadul sampai paling mutakhir berebut simpati para masyarakat untuk dapat selalu menampilkan berita teraktual dari pesta Sepakbola terbesar, setelah Piala Dunia tersebut. Bola memang bukan sekedar kulit bundar yang disepak kesana kemari. Bola dapat menjadi inspirasi keindahan bagi seseorang.
Lihatlah di sana bola selalu ditendang ke depan. Sekali kamu lengah, dan berpaling ke belakang. Maka, bola pun akan dicuri lawan dan kau akan kehilangan kendali permainan. Bukankah itu terjadi dalam kehidupan?
Dalam hidup ini, kita harus memandang ke depan. Sekali saja kita menengok ke belakang, kita akan kehilangan suatu momen dalam hidup kita. Kehidupan juga seperti bola yang maunya hanya dibawa dan ditendang ke depan Ke depan mana? Ke gawang lawan, ke gawang nasib! Karena itu, untuk menggempur gawang nasib, tampaknya kita dapat belajar banyak dari Sepakbola. Setuju…!
Bola yang kecil itu pun dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme yang tertanam dalam sanubari kita. Setiap komponen dalam Sepakbola pasti berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik bagi negaranya. Seorang penonton yang sportif pun dapat dijadikan suri tauladan bagi seluruh dunia akan arti sebuah kecintaan pada bangsanya. Tak jauh berbeda dengan nasib kita bukan? Kita sekarang yang berada dalam Keluarga Besar Wahid Hasyim, selayaknya mampu menggoreskan sedikit manfaat dan kenangan sebagai ungkapan cinta kita kepada Almamater ini. Kadang kita berfikir, apa arti diri kita dibandingkan ratusan warga Pondok yang lain. Kita hanyalah setitik kecil dari sebuah Galaksi yang amat besar di komunitas Wahid Hasyim. Tapi, kita harus selalu memiliki keyakinan bahwa dengan kita berbuat sekecil apapun, asal itu bermanfaat pasti hal tersebut akan dikenang hingga kelak.
Sebuah kulit tak berharga yang besarnya hanya seukuran buah kelapa saja dapat menggemparkan seluruh dunia dengan sihirnya. Alangkah kurang bijaknya, kita yang dibekali dengan berbagai ketrampilan dan rizki dari-Nya tidak dapat memberi sedikit manfaat bagi sesama. Kita mulai saja dengan mentaati peraturan pondok, dengan terkondisikannya keadaan didalamnya pastilah kita akan merasa lebih nyaman dan lebih dapat maksimal untuk berprestasi diberbagai bidang. Selanjutnya, anak-anak di daerah LPM Wahid Hasyim yang sangat ingin mereguk manisnya iman dan ilmu dari ustadz-ustadzah teladan mereka. Akankah kita tega membiarkan mereka semua tak dapat meng-eja sekedar huruf Alif atau Ba’ saja. Bukan tidak mungkin setelah mereka dapat membaca, mereka akan merangkai satu demi satu huruf tersebut dan akhirnya mereka dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang berakhlaqul karimah. Mengingat semakin langkanya sifat terpuji tersebut di Tanah Air kita tercinta. Oleh karena itu, janganlah berhenti bermimpi untuk memiliki anak-anak didik teladan. Adapun jika fasilitator kurang maksimal dalam melayani teman-teman semua, kami sangat mengharapkan saran dan masukan yang sudah ada tempatnya (kotak saran tiap asrama) demi kemajuan kita bersama. Kita memang hanya secuil, tapi yakinlah jika kita berusaha untuk berbuat pasti kita dapat bermanfaat bagi sesama. Layaknya bola lusuh sensasional tadi, yang untuk menontonnya saja direlain begadang rame-rame di asrama putra seperti sekarang. *#@%(ngantoek berat)
WH, 160608; 04.31
Jangan Putus Asa
Mei 20, 2008
Kepada seluruh temen-temenku santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim jangan pernah putus asa dengan segala usaha kita yang belum sempurna, bangkitlah! berusahalah! dan bordo’alah!
Waktu kita masih panjang namun semua kan sia-sia jika tidak kita manfaatkan dengan maksimal, jalan yang harus kita lalui juga masih jauh. jangan lupa tujuan kita dari rumah jangan kau berubah fikiran hanya karena keadaan dan tempat yang berbeda dan berubah saat ini.
Ingatlah saudara yang menanti kita dirumah, penuh harap dan penantian untuk membawa perubahan yang ada pada diri kita. gunakan waktu kita disini sebaik-baiknya, jaga amanah dari kedua orang tua kita, saudara-saudara kita dan orang-orang yang menyayangi kita dirumah. mereka mengantar kita pergi, berharap dan tak jemu menanti kita kembali.
Ibu disini anakmu kan berusaha memenuhi impianmu Ibu, doakan anakmu Ibu, tanpa doamu ,apalah semua usahaku. Ibu ku kan kembalai memenuhi harapanmu Ibu. doakan aku. . . . . . . . . . .. . .
Maftuhin
Mengalir
Mei 20, 2008
FRAGMEN – Volume I / Edisi 15 Mei – 15 Juni 2008
Oleh Ahmad Farid Mubarok
Air secara wajar mengalir dari atas kebawah atau dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan disini, berdasarkan penelitian yang penulis lakukan terhadap beberapa orang secara acak, bayangan kita akan sampai ke sebuah sungai di pegunungan – jadi mungkin seperti itulah otak menyimpan informasi – yang penuh bebatuan (beberapa orang membayangkan sungai tersebut sedikit batu-batu)
Meskipun cara kita memandang dan menilai setiap peristiwa dalam kehidupan ini berbeda dan semua terekam dalam otak yang gelap dan, meskipun setiap individu “sebagai subjek” mempunyai imajinasi yang berbeda tapi sekalilagi, cara otak ini menyimpan informasi adalah sama.
Dan di sungai itu, batu-batu itu, mereka tegar meskipun melawan arus. Demikianlah gambaran orang-orang yang istiqomah.
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284
Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com