FRAGMEN – Volume I / Edisi 5 – 25 Mei 2008
Oleh Budi Ardianto – Koordinator Departeman Keagamaan Masyarakat LPM Wahid Hasyim
Manusia dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan, baik perubahan internal meliputi perkembangan tingkat kematangan jiwanya (anak-anak, belia, dewasa, orang tua) dan semua hal yang ada didalamnya (perilaku, tutur kata, cara pandang, pola pikir dsb) maupun perubahan secara eksternal meliputi adanya sebuah eksistensi dari manusia lain dan lingkungan sekitar seperti penghargaan, pujian, celaan dsb, yang keduanya (internal dan eksternal) saling keterkaitan, karena memang sesungguhnya manusia adalah makhluk yang dinamis, mengalami perkembangan dan perubahan.
Selain makhluk yang dinamis manusia juga kita kenal sebagai makhluk sosial, makluk yang memiliki sifat ketergantungan baik dengan manusia yang lain maupun dengan makhluk Tuhan lainnya. Karena sifat ketergantungan inilah manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan dari orang lain. Untuk mencukupi kebutuhannya sebagai makhluk sosial, manusia hidup secara berkelompok membentuk satu kelompok hidup yang memiliki satu tujuan hidup yakni kebahagiaan hidup. Untuk mencapai tujuan bersama itu, mereka membuat semacam komitmen bersama dengan membuat sebuah aturan (norma) hidup secara mufakat dengan berbagai cara dalam pelaksanaannya.
Mereka hidup bersama, dengan berbagai aneka karakter, berbagai cara pandang dan berfikir yang berbeda, namun kecenderungan dalam satu masyarakat akan mempunyai satu corak warna kebudayaan/ kebiasaan yang sama, sehingga antara masyarakat daerah satu dengan yang lain akan berbeda corak kebudayaan dan peradabannya, sesuai dengan kebiasaan berfikir manusia daerah tersebut. Manusia sebagai makhluk dinamis, ia juga akan mengalami perkembangan pola pikir seiring dengan perubahan peradabannya. Jika mereka berfikir secara positif dalam melakukan perkembangannya, maka kebudayaan dan peradaban yang tercipta kelak akan berdampak positif juga. Seperti contohnya adalah berfikir bahwa ”membaca jendela dunia”, melalui membaca kita dapat menikmati dunia, dan hal itu bila dibiasakan dalam setiap keseharian kita maka akan tercipta sebuah budaya membaca, yang akhirnya tercipta sebuah peradaban yang maju karena manusia yang telah mampu menciptakan dunia masa depan pada waktu yang sangat cepat.
Dan hal itu diperlukan adanya sebuah kebiasaan berfikir secara positif (positive thinking) dimulai dari usia dini dan dilakukan secara berkesinambungan hingga tingkat usia dewasa bahkan usia lanjut sehingga nantinya akan menghasilkan hubungan horizontal terhadap peradaban manusia secara keseluruhan.
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284 Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com
EURO 2008 Swiss – Austria, Kecil tapi Besar…!
Juni 17, 2008
Oleh Muhammad Afif Fajri Yusron – Ketua LPM Wahid Hasyim
Selama sepekan ini mata dunia mungkin hanya tertuju di Austria dan Swiss. Bukan berlebihan memang, karena disana ada Pesta Sepakbola Piala Eropa 2008. Pagelaran tersebut telah menyedot perhatian dunia. Media elektronik mulai dari paling jadul sampai paling mutakhir berebut simpati para masyarakat untuk dapat selalu menampilkan berita teraktual dari pesta Sepakbola terbesar, setelah Piala Dunia tersebut. Bola memang bukan sekedar kulit bundar yang disepak kesana kemari. Bola dapat menjadi inspirasi keindahan bagi seseorang.
Lihatlah di sana bola selalu ditendang ke depan. Sekali kamu lengah, dan berpaling ke belakang. Maka, bola pun akan dicuri lawan dan kau akan kehilangan kendali permainan. Bukankah itu terjadi dalam kehidupan?
Dalam hidup ini, kita harus memandang ke depan. Sekali saja kita menengok ke belakang, kita akan kehilangan suatu momen dalam hidup kita. Kehidupan juga seperti bola yang maunya hanya dibawa dan ditendang ke depan Ke depan mana? Ke gawang lawan, ke gawang nasib! Karena itu, untuk menggempur gawang nasib, tampaknya kita dapat belajar banyak dari Sepakbola. Setuju…!
Bola yang kecil itu pun dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme yang tertanam dalam sanubari kita. Setiap komponen dalam Sepakbola pasti berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik bagi negaranya. Seorang penonton yang sportif pun dapat dijadikan suri tauladan bagi seluruh dunia akan arti sebuah kecintaan pada bangsanya. Tak jauh berbeda dengan nasib kita bukan? Kita sekarang yang berada dalam Keluarga Besar Wahid Hasyim, selayaknya mampu menggoreskan sedikit manfaat dan kenangan sebagai ungkapan cinta kita kepada Almamater ini. Kadang kita berfikir, apa arti diri kita dibandingkan ratusan warga Pondok yang lain. Kita hanyalah setitik kecil dari sebuah Galaksi yang amat besar di komunitas Wahid Hasyim. Tapi, kita harus selalu memiliki keyakinan bahwa dengan kita berbuat sekecil apapun, asal itu bermanfaat pasti hal tersebut akan dikenang hingga kelak.
Sebuah kulit tak berharga yang besarnya hanya seukuran buah kelapa saja dapat menggemparkan seluruh dunia dengan sihirnya. Alangkah kurang bijaknya, kita yang dibekali dengan berbagai ketrampilan dan rizki dari-Nya tidak dapat memberi sedikit manfaat bagi sesama. Kita mulai saja dengan mentaati peraturan pondok, dengan terkondisikannya keadaan didalamnya pastilah kita akan merasa lebih nyaman dan lebih dapat maksimal untuk berprestasi diberbagai bidang. Selanjutnya, anak-anak di daerah LPM Wahid Hasyim yang sangat ingin mereguk manisnya iman dan ilmu dari ustadz-ustadzah teladan mereka. Akankah kita tega membiarkan mereka semua tak dapat meng-eja sekedar huruf Alif atau Ba’ saja. Bukan tidak mungkin setelah mereka dapat membaca, mereka akan merangkai satu demi satu huruf tersebut dan akhirnya mereka dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang berakhlaqul karimah. Mengingat semakin langkanya sifat terpuji tersebut di Tanah Air kita tercinta. Oleh karena itu, janganlah berhenti bermimpi untuk memiliki anak-anak didik teladan. Adapun jika fasilitator kurang maksimal dalam melayani teman-teman semua, kami sangat mengharapkan saran dan masukan yang sudah ada tempatnya (kotak saran tiap asrama) demi kemajuan kita bersama. Kita memang hanya secuil, tapi yakinlah jika kita berusaha untuk berbuat pasti kita dapat bermanfaat bagi sesama. Layaknya bola lusuh sensasional tadi, yang untuk menontonnya saja direlain begadang rame-rame di asrama putra seperti sekarang. *#@%(ngantoek berat)
WH, 160608; 04.31
Dari Soetomo hingga Multatuli
Juni 17, 2008
INSPIRATORIAL – Volume II / Edisi 15 Juni – 15 Juli 2008
Oleh Muhammad Arif Kurniawan – Koordinator Departemen Pendidikan LPM Wahid Hasyim
Soetomo adalah tokoh pendiri organisasi pergerakan pertama di Indonesia yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Soetomo lahir di Ngegeh, sebuah desa kecil di Nganjuk, pada tahun 1888 (mungkin ini adalah angka keberuntungan) dan wafat di Surabaya, 30 Mei 1938.
Pada tahun 1903 Soetomo menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan memperoleh gelar dokter. Sang dokter muda ini kemudian mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya di Belanda pada tahun 1919, dua tahun sebelum memperistri seorang noni Belanda yang dikenalnya saat bertugas di Blora. Bersama teman-temanya di STOVIA Soetomo mendirikan organisasi Budi Utomo. Lahirnya Budi Utomo bermula dari diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Dan Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, organisasi Budi Utomo secara resmi di deklarasiakan.
Tanggal berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun (tepat 100 tahun silam, se-abad yang lalu). Masa ini juga merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.
dikutip dari berbagai sumber
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284
Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com
Selamat Datang Kembali di LPM…
Juni 17, 2008
EDITORIAL – Volume II / Edisi 15 Juni – 15 Juli 2008
Oleh Redaksi LPM Newsletter
Ketika kami hendak menyusun edisi kedua newsletter ini kami sempat berfikir, akankah kehadirannya hanya berupa pemaksaan bahwa lembaga ini milik bersama.
LPM hadir lagi kali ini, dengan obor semangatnya yang pernah redup sesekali namun selalu mencoba berkibar kembali. LPM adalah kita, Lpm milik kita bukan hanya milik Muhammad Afif Fajri Yusron (ketua lpm red) dan punggawa-punggawanya. Sebisa mungkin, kami menghindari hal-hal yang menyebabkan anggapan-anggapan semacam ini. Sejauh mungkin kami menghindari dari hal-hal yang menyebabkan anggapan-anggapan semacam ini. Dalam edisi kali ini ditekankan bahwa kehadirannya lebih berupa forum silaturrahim
Newsletter ini hadir di tengah kesibukan untuk menyambut haul ke-9 K.H. Abdul Hadi (Pendiri Pondok Pesantren Wahid Hasyim). Dengan sederetan acara yang menjadikan haul kali ini, makin meriah diantaranya Akhirussanah, Sunatan massal dan wisuda santri PPWH (MI, MTS, MA, Ma’had Aly, Madrasah Tsanawiyah 3, Madrasah diniyah, khataman Khufadz wa tafsir)dan pertemuan akbar antara pengasuh dengan wali santri.
Dan di tengah kesibukan itulah lembaga ini diharapkan tetap eksis mengabdi masyarakat.
Redaksi
Kata Kunci: Rasakanlah Makna, Wahid Hasim, Pondok Pesantren Yogyakarta
© 2008 LPM Wahid Hasyim, Hakcipta Terpelihara
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Sekretariat: Jl. Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283 Telp. 484284
Email: lpm_wahidhasyim@muslim.com